Kunci Ketenangan Hidup

Istiqomah sebagai Obat Kegelisahan dan Kesedihan

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

 

    RASA sedih, gundah gulana, depresi dan frustrasi sering menghantui hidup seseorang. Karenanya tak jarang ditemui orang-orang yang berada pada kondisi tersebut sulit move on (bangkit), ia merasa hidupnya seakan-akan tidak berguna lagi. Masa depannya suram dan kelam, larut dalam perasaan yang membuatkannya semakin tenggelam hingga tidak tertutup kemungkinan hidup dalam kepesimisan. Bahkan bila sampai pada titik tertentu tak sedikit mengalami gangguan mental.

Namun sebelum keadaan tersebut benar-benar menguasai, ada orang-orang yang berusaha mencari obat penawar seperti mendatangi tempat hiburan, mabuk-mabukan dan mengkonsumsi obat-obat terlarang. Baginya apa yang dilakukan itu diyakini dapat membawa perubahan ke arah yang lebih baik dan keluar dari masalah yang dihadapi. Akan tapi, ternyata semua usaha yang ditempuh sama sekali tidak membawa nilai positif dan justru akan memperparah keadaan.

Lain halnya dengan orang-orang yang yang beriman dan istiqomah dalam keimanannya. Ketika ditimpa musibah, dihantui rasa sedih, frustrasi dalam menjalani hidup, rugi dalam bisnis dan tidak mendapatkan apa yang diharapkan tidak membuatnya terketekan. Segala problematika yang dihadapi diserahkan kepada Allah Subhanahu Waatala, ia yakin Allah Subhanahu Waatala sebaik-baik penyelesai masalah, sehingga rasa sedih dan takut serta hal-hala yang dapat mengganggu jiwa dan perasaannya mudah ditepis.

Allah Subhānahu wa tā’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ ١٣

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqomah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. (QS: al-Ahqāf: 13).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah bertutur: Orang yang senantiasa istiqomah dengan keimanannya akan merasakan kegembiraan dan ketenangan dalam hidup, tidak sedikitpun dihantui rasa sedih dan takut, bahkan optimis dalam segala hal. Syeikh ‘Aidh Al-Qarni rahimahullah berpendapat lain mengenai ayat ini, dimana menurutnya orang-orang yang beriman dan istikamah dengan keimanannya tidak akan merasakan khawatir dan takut dengan kedahsyatan hari kiamat dan siksa kubur.

Bahkan jika seorang istiqomah, bukan saja dihilangkan rasa takut dan sedih, di akhirat kelak mereka diberi ganjaran berupa masuk surga.

Dalam ayat lain Allah subhānahu wa tā’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ ٣٠
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu". (QS: Fushilat 30).

Al-Hasan berkata: Apabila seseorang telah membaca ayat: ‘sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka’ (Fushilah 30), maka ucapkanlah doa: ‘Ya Allah Engkau adalah Tuhan kami, karuniakanlah kami istiqomah’. (Al-Maruzi, al-Zuhud wa al-Raqāiq li Ibni al-Mubarak, hlm 1/507. Lihat al-Khāzin, Lubab al-Ta’wil, hlm 4/87).

Seorang sahabat bertanya kepada Nabi tentang suatu amalan yang apabila seorang melakukannya ia tidak membutuhkan amalan yang lain. Maka Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam menjawab, cukup bagimu beriman kepada Allah dan istiqomah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللهِ الثَّقَفِيِّ قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ وَفِي حَدِيثِ أَبِي أُسَامَةَ غَيْرَكَ، قَالَ قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ فَاسْتَقِمْ

Dari Sufyan bin Abdillah Al-Tsaqafi Dia berkata, “Wahai Rasulullah, Katakanlah kepadaku suatu perkataan tentang Islam, yang tidak mungkin aku tanyakan kepada siapa pun setelah kepadamu. Dalam hadits Abu Usamah disebutkan “Selainmu.”Rasulullah bersabda,”Katakanlah: “Aku beriman kepada Allah, lalu istiqomahlah.” (HR Muslim).

Maksud dari kata “Istiqomalah” ialah adil dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu Waatala baik dalam akidah, perkataan dan perbuatan. (Muhammad al-Amīn al-Harari al-Alawi, Kawākibu al-Wahhābi syarhu Shahih Muslim, hlm 2/338). Ini maknanya istikalah totalitas, baik dalam keyakinan (akidah), ucapan dan perbuatan. Karena hanya dengan cara itu seseorang terhindar dari rasa risau dan sedih yang berlebihan.

Abul Qasim Al-Qusyairi berkata: Istikamah adalah satu tingkatan yang menjadi penyempurna dan pelengkap semua urusan. Dengan istiqamah, segala kebaikan dengan semua aturannya dapat diwujudkan. Orang yang tidak istiqomah di dalam melakukan usahanya, pasti sia-sia dan gagal. Ia berkata pula: Ada yang berpendapat bahwa istiqomah itu hanya bisa dijalankan oleh orang-orang besar, karena istiqomah adalah menyimpang dari kebiasaan, menyalahi adat dan kebiasaan sehari-hari, teguh di hadapan Allah Subhanahu Waatala  dengan kesungguhan dan kejujuran. Oleh karena itu, Nabi bersabda: Istiqomahlah kamu sekalian, maka kamu akan selalu diperhitungkan orang. (Al-Qusyairi, Risālah Qusyairiyah, hlm 356).

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istiqomah dalam iman dan ketaatan kepada Allah Subhanahu Waatala merupakan kunci ketenangan hidup. Orang yang beriman dan istiqomah akan lebih mampu menghadapi kesedihan, ketakutan, dan berbagai ujian hidup dengan penuh optimisme karena bersandar kepada Allah Subhanahu Waatala. Istiqomah mencakup keteguhan dalam akidah, ucapan, dan perbuatan, sehingga menghadirkan ketenangan di dunia serta jaminan kebahagiaan dan surga di akhirat.***

 


Berita Lainnya...

Tulis Komentar